Saat menulis curriculum vitae (CV) atau resume, banyak dari kita merasa wajib menempelkan pas foto terbaik. Sebuah senyum terbaik, pakaian paling rapi, pencahayaan paling sempurna—semua itu dianggap sebagai cara untuk “menjual diri” secara profesional.
Tapi tahukah Anda? Tidak semua orang setuju dengan praktik ini.
Salah satu yang menentangnya adalah Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie. Dalam nada yang lugas namun tegas—yang menjadi ciri khasnya—Stella menyampaikan bahwa foto dalam CV bukan hanya tidak perlu, tapi juga berpotensi berbahaya.
Pernyataan itu ia sampaikan dalam pidato pembukaan Awarding Ceremony L’Oreal–UNESCO For Women In Science 2025 di Gedung Kemendiktisaintek, Jakarta, pada Selasa (11/11).
Dan apa yang ia ungkapkan… benar-benar membuat kita perlu berpikir ulang tentang cara dunia kerja menilai calon kandidat.
Mari kita bedah satu per satu—secara santai, jujur, dan tetap informatif.
Foto di CV: Menarik Dilihat, Tapi Mengundang Bias

Buat banyak orang, CV tanpa foto rasanya hambar. Tidak lengkap. Tidak personal. Bahkan terasa kurang “menjual.”
Namun bagi Prof. Stella, praktik itu justru membuka pintu bias yang selama ini tidak disadari.
Stella mengatakan bahwa di dunia sains saja—ruang yang seharusnya objektif—kesenjangan antara laki-laki dan perempuan masih sangat lebar. Menambahkan foto dalam CV hanya memperkuat berbagai stereotipe yang sudah lama bercokol.
Dalam kata lain: foto bisa membuat orang menilai hal-hal di luar isi CV.
Dan itulah masalahnya.
Eksperimen Robert dan Ruth: Saat Nama Saja Sudah Memunculkan Bias
Dalam pidatonya, Stella memaparkan sebuah eksperimen ilmiah yang sederhana tapi “mengena.”
Eksperimen itu melibatkan dua CV:
- Satu diberi nama Robert (laki-laki)
- Satu diberi nama Ruth (perempuan)
Isi kedua CV itu identik—mulai dari pengalaman mengajar, daftar riset ilmiah, hingga produktivitas akademik. Tidak ada satu pun baris berbeda kecuali… nama.
Partisipan kemudian ditanya tiga hal:
- Seberapa produktif riset mereka?
- Seberapa kuat pengalaman kerja mereka?
- Apakah Anda akan mempekerjakan mereka?
Jawabannya?
Inilah bagian yang menarik, sekaligus menyedihkan.
Saat CV Luar Biasa, Bias Mengecil—Saat CV “Biasa Saja”, Bias Langsung Keluar
Stella menjelaskan bahwa jika CV menunjukkan kualifikasi yang luar biasa hebat, partisipan cenderung menilai Robert dan Ruth sama baiknya.
Namun cerita berubah ketika isi CV hanya “cukup baik.”
Masih unggul, tapi tidak memukau.
Di sinilah bias muncul seperti monster yang bangun dari tidurnya.
Partisipan mulai menunjukkan preferensi:
- Robert dianggap lebih produktif
- Robert dinilai punya pengalaman mengajar lebih baik
- Ruth dinilai kurang kuat, meskipun datanya sama persis
Seakan-akan hanya dengan memberi nama “Robert,” orang melihat sosok yang lebih kompeten.
Dan hanya karena nama “Ruth,” orang melihat seseorang dengan kemampuan lebih rendah.
Padahal CV mereka 100% sama.
Hasil yang Mengejutkan: 70% Memilih Robert, Hanya 45% Memilih Ruth
Stella menyampaikan angka yang cukup mengguncang.
- 70% partisipan ingin mempekerjakan Robert
- Hanya 45% yang memilih Ruth
Selisih hampir setengah.
Dan itu terjadi tanpa foto, tanpa latar belakang, tanpa wajah.
Hanya karena nama.
“Ini bukti yang sangat jelas soal bias dan stereotipe,” simpul Stella.
Jika nama saja sudah bisa memicu bias sebesar itu, bagaimana kalau ditambah foto?
Foto Membuat Bias Makin Tinggi: Indonesia Justru Menganggapnya “Wajib”
Stella kemudian menyinggung praktik umum di Indonesia: memasang foto di CV.
Ia tidak hanya keberatan—ia menolak keras.
Menurutnya, foto hanya akan memperbesar efek bias.
“Penampilan seseorang akan membuat Anda memiliki pendapat berbeda soal orang tertentu tanpa memandang apa yang ditulis dalam CV.”
Foto membuat orang:
- Menghakimi dari paras
- Menilai dari warna kulit
- Memberi stereotipe berdasarkan bentuk wajah
- Menghubungkan kualitas kerja dengan penampilan, padahal tidak ada hubungannya
Inilah persoalan yang ingin Stella hilangkan.
Bukan karena foto itu tidak sopan.
Bukan karena formalitas.
Melainkan karena foto memicu bias tidak sadar (unconscious bias) yang merugikan pelamar, terutama perempuan.
Kelihatannya Sepele, Tapi Dampaknya Besar pada Kesenjangan Gender
Stella menegaskan bahwa menghilangkan foto di CV mungkin tampak seperti langkah kecil. Tapi dalam konteks kesetaraan gender, ini adalah langkah penting.
Kita sering mengira bias hadir dalam bentuk besar:
- Komentar seksis
- Diskriminasi jabatan
- Ketidaksetaraan gaji
Padahal bias juga muncul dalam bentuk kecil yang sulit dilihat:
- Preferensi berdasarkan wajah
- Penilaian berdasarkan gaya rambut
- Asumsi berdasarkan penampilan
Dan foto dalam CV—percaya atau tidak—adalah pintu masuk utama bagi bias tersebut.
Studi dari Jepang: Foto dalam CV Jadi Sumber Diskriminasi
Pendapat Stella bukan sekadar opini. Ada banyak riset yang mendukung.
Salah satunya adalah studi oleh Yasuo Yabuki, dosen di Chukyo University, Jepang.
Dalam penelitiannya, Yasuo menyelipkan berbagai foto dengan karakteristik fisik berbeda ke dalam CV fiktif:
- Orang berkacamata
- Rambut cokelat
- Obesitas
- Rambut menipis
CV tersebut kemudian diberikan kepada 818 personel Human Resources (HR).
Hasilnya jelas:
- Foto pria dengan rambut menipis dapat nilai rendah
- Foto perempuan dengan berat badan berlebih juga dinilai kurang kompeten
Kesimpulan Yasuo:
Foto dalam CV sangat memengaruhi keputusan rekrutmen.
Dan foto itu memunculkan bias tersendiri dalam diri HR.
Dengan kata lain: penampilan fisik yang tidak ada hubungannya dengan kemampuan kerja… malah ikut menentukan nasib pelamar.
Mengapa Bias Ini Bahaya? Karena Terjadi Tanpa Kita Sadari
Bias yang terlihat jelas, mudah dilawan.
Tapi bias yang tidak terasa? Itu musuh yang jauh lebih sulit.
Ketika HR menilai CV seseorang, mereka mungkin berpikir mereka objektif.
Padahal justru keputusan yang “kelihatannya logis” sering dipengaruhi hal-hal seperti:
- Kacamata
- Bentuk wajah
- Raut muka
- Berat badan
Dan yang mengerikan:
Bias ini muncul begitu cepat, bahkan sebelum otak sempat memproses isi CV.
Menghapus Foto di CV Adalah Langkah Preventif yang Smart
Menurut Stella, menghapus foto bukan berarti membuat CV kurang profesional.
Justru sebaliknya: CV menjadi lebih objektif.
Yang dinilai harusnya:
- Kemampuan
- Pengalaman
- Portofolio
- Prestasi
- Keahlian
Bukan:
- Rambut
- Kulit
- Bentuk tubuh
- Ekspresi wajah
- Kesan pertama visual
Ketika foto hilang, orang dipaksa melihat isi.
Dan itu membuat proses rekrutmen lebih adil.
Perempuan Lebih Sering Jadi Korban Bias Penampilan
Salah satu poin yang ingin disorot Stella adalah fakta bahwa perempuan sering kali menjadi korban bias berbasis penampilan.
Ketika perempuan tampil cantik, sering dianggap “kurang serius.”
Ketika tampil sederhana, dianggap “kurang kompetitif.”
Ketika tampak lelah, dianggap “tidak siap bekerja.”
Ketika sedikit berdandan, dianggap “terlalu sibuk dengan penampilan.”
Tidak ada menangnya.
Karena dunia sering menghakimi perempuan lebih keras hanya dari foto.
Menghapus foto membantu menghilangkan sebagian bias ini.
Bias Penampilan Terjadi di Banyak Negara, Tapi Indonesia Masih Melegitimasi Foto di CV
Di banyak negara:
- Amerika Serikat
- Inggris
- Australia
- Belanda
- Kanada
…memasang foto di CV justru dianggap tidak profesional karena dikhawatirkan memicu diskriminasi.
Namun di Indonesia, foto bahkan masih dianggap “standar.”
Dan inilah yang ingin Stella ubah.
Ia mengajak publik Indonesia untuk mengevaluasi ulang:
Apakah kita ingin proses rekrutmen yang adil?
Atau ingin mempertahankan kebiasaan yang sebenarnya merugikan banyak pelamar?
Proses Rekrutmen Seharusnya Membaca Isi, Bukan Menilai Wajah
Jika satu foto bisa mengubah persepsi terhadap CV, maka foto itu bukan membantu—tapi merugikan.
Stella ingin proses rekrutmen berfokus pada:
- apa yang ditulis
- apa yang sudah dilakukan
- apa yang bisa diberikan kandidat
Bukan apa warna kulitnya.
Bukan bagaimana rambutnya.
Bukan bagaimana wajahnya terlihat ketika difoto.
Inilah inti pidato Stella.
Saatnya Indonesia Berbenah: Hilangkan Foto di CV
Stella tidak meminta hal sulit.
Ia hanya ingin:
- CV dinilai objektif
- Bias gender berkurang
- Peluang perempuan meningkat
- HR lebih fokus pada kemampuan daripada penampilan
Menghilangkan foto memang terlihat remeh. Tapi justru perubahan kecil itulah yang sering memunculkan dampak besar.
Jika ingin dunia kerja lebih fair—dan bukan sekadar terlihat fair—penghapusan foto adalah langkah awal yang penting.
Penutup: CV Seharusnya Bicara Kemampuan, Bukan Penampilan
Perdebatan soal foto di CV bukan sekadar urusan estetika.
Ini soal bagaimana kita membangun proses rekrutmen yang benar-benar adil.
Jika satu foto bisa mengubah persepsi, mengapa foto itu dipertahankan?
Pidato Prof. Stella Christie bukan sekadar kritik.
Ini ajakan untuk membuka mata dan telinga, melihat fakta bahwa bias itu nyata dan memengaruhi karier banyak orang—terutama perempuan.
Dan mungkin…
Sudah saatnya kita berhenti menilai wajah sebelum membaca isi.






