Aksi Penyerobotan Lahan di Fluk: Diduga Libatkan Oknum BPD dan Pendeta, Masyarakat Desak Penegakan Hukum

Senin, 3 Maret 2025

Berita Informasi1675 Dilihat

Fluk Halsel, jendelamalut.com – Ketegangan antara warga Desa Bobo dan Desa Fluk kembali memanas setelah aksi penyerobotan lahan oleh sekelompok warga Bobo yang memasang pita barikade batas desa di wilayah Fluk pada 11 Februari 2025. Tidak hanya itu, mereka juga membawa senjata tajam serta merusak pal batas yang sebelumnya telah dibangun oleh pemerintah desa Bobo terdahulu.

Dalam Pantauan Jurnalis Media Jendela Malut, “Aksi ini diduga melibatkan langsung Ketua BPD Bobo, Nandis Kurama, beserta beberapa anggotanya dan Ibu Pendeta Mersi. Mereka dituduh berperan aktif dalam upaya menghapus pal batas desa untuk memperkuat klaim sepihak terhadap wilayah Fluk.

Kepala Desa Bobo, Jemss Totononu, menegaskan bahwa pal batas yang dibangun pemerintahan sebelumnya masih sangat jauh dari area eksplorasi PT. IMS dan tetap berada dalam wilayah Fluk. Sementara itu, Ketua BPD Fluk, Rusdi Jakaria, serta para tokoh masyarakat, mendesak kepolisian segera memanggil dan mengusut para pelaku yang terlibat dalam aksi provokatif tersebut.

Insiden ini bermula dari klaim sepihak seorang warga Bobo, Lido, yang menyatakan bahwa kebunnya menjadi patokan batas desa. Pernyataan ini kemudian diperkuat oleh Ibu Pendeta Mersi, yang bahkan menyampaikan pernyataan provokatif terkait tapal batas di dalam gereja saat ibadah pada 26 Januari 2025.

Dalam rekaman video yang beredar, Ibu Pendeta Mersi tampak membakar emosi jemaat dengan menyatakan bahwa jika mengacu pada Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT. IMS, maka area Fluk lebih besar dibandingkan Bobo, padahal wilayah yang diklaim tetap merupakan bagian dari Desa Fluk. Pernyataan ini dinilai semakin memperkeruh situasi dan memicu ketegangan antarwarga.

Penelusuran lebih lanjut mengungkap bahwa Pendeta Mersi baru bertugas di Bobo kurang dari dua tahun, namun sangat aktif dalam konflik tapal batas dan berbagai perselisihan internal desa. Ia diduga terlibat dalam manuver politik untuk menjatuhkan Kepala Desa Bobo, Jemss Totononu, dengan mendukung kelompok masyarakat yang menentang kebijakan pemerintah desa, termasuk yang kontra terhadap aktivitas PT. IMS.

Dalam setahun terakhir, berbagai upaya dilakukan untuk melemahkan kepemimpinan Kepala Desa Bobo. Aksi penyerobotan lahan pada 11 Februari serta unjuk rasa di Jakarta beberapa waktu lalu disebut sebagai bagian dari skenario politik kelompok yang berseberangan dengan pemerintah desa. Selain itu, berbagai tuduhan terhadap pemerintah desa juga disebarkan melalui akun-akun Facebook dan grup media sosial lokal.

Menanggapi situasi ini, Kepala Desa Bobo menegaskan akan mengambil langkah hukum dengan melaporkan pihak-pihak yang melakukan pencemaran nama baik serta upaya provokasi yang mengancam stabilitas desa. Masyarakat Fluk juga mendesak aparat penegak hukum segera bertindak agar konflik ini tidak semakin meluas dan menimbulkan dampak yang lebih serius. Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *