KULTUM RAMADAN TENTANG MAKANAN MINUM YANG ADIL

Berita Informasi121 Dilihat

Jendelamalut.com-Kultum adalah akronim dari kuliah tujuh menit. Sesuai dengan namanya, materi yang disajikan adalah materi singkat yang dapat disampaikan dalam ceramah dengan panjang kurang lebih selama tujuh menit. Keutamaan bulan Ramadan sangatlah besar. Namun, belum tentu setiap muslim memahami betul apa yang diperolehnya selama menjelang dibulan suci. Sehingga, dalam sebuah upaya untuk memberikan langkah pasti oleh Forum Dosen Universitas Khairun memanfaatkan kesempatan setelah Shalat zuhur di masjid Muhammad Samil Djahir untuk menyampaikan ceramah singkat Ramadan.

Dalam kegiatan kultum Ramadan, Dr. Hasbullah, S.TP,.M.Sc menyampaikan materi kultum Ramadhan tentang makanan minuman yang adil. Kegiatan ini sebagai landasan untuk tetap optimis dalam meningkatkan pengetahuan. Sesuai tema kultum pilihan yang diunggah tentang akidah, akhlak, dan kemanusiaan, sekaligus mempererat civitas akademik serta memupuk keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini untuk memudahkan para penceramah dalam memilih kultum singkat yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing.

Media ini telah mengutip apa yang telah disampaikan oleh Dr. Hasbullah bahwa topik yang akan diberikan tentunya sesuai dengan bidang keilmuan tentang food science and technology atau ilmu dan teknologi pangan. Sehingga tema yang akan di bicarakan tentang makan minum yang adil. Ini melahirkan suatu diskursus yang menarik.(11/03)

Persoalan makan dan minum dapat kita kutip satu istilah soal halalan thayyiban. Menurut Mu’jam al Wasith halal adalah barang yang tidak haram, mengonsumsinya tidak dilarang agama. Semenntara menurut Syekh Ar-Raghib al-Isfahani dalam Mu’jam Mufradat li Alfadhil Qur’an menyebutkan bahwa thayyib secara umum artinya adalah “sesuatu yang dirasakan enak oleh indra dan jiwa”.

Sehingga dapat kita kaitkan dengan bidang keilmuan pada pangan yang memiliki tiga fungsi yaitu ;
1. Fungsi primer, hal ini berkaitan dengan kebutuhan gizi. Ketika dimakan sebuah makanan itu dapat memenuhi kebutuhan gizi seperti gizi makro dan gizi mikro. Gizi makro memiliki karbohidrat, protein dan lemak. Sementara gizi mikro yaitu vitamin, dan mineral. Ini semua diperoleh dari pangan.
2. Fungsi sekunder, terkait dengan kebutuhan pada aspek sensoris. Tentunya kebutuhan ini memenuhi seperti rasa, tekstur, cita rasa, dan aroma. Terkadang ketika merasakan suatu makanan yang dirasakan bukan hanya sekedar kenyang. Tetapi, aspek sensoris inilah sering menimbulkan suatu pilihan pada makanan.
3. Fungsi tersier, makanan yang cenderung bersifat pada aspek fisiologikal, atau pada dasarnya pangan berpengaruh positif bagi kesehatan tubuh. Beberapa contoh pangan fungsional seperti tempe yang mengandung isoflavon dan serat tercerna (reduksi kanker), tomat dan semangka yang mengandung likopen (reduksi kanker prostat dan penyakit jantung), teh hijau yang mengandung polifenol dan tanin (reduksi kanker), brokoli yang mengandung sulforafan (reduksi kanker payu dara), salmon dan tuna mengandung omega 3 (pencegahan sakit jantung). Masih banyak pangan yang memiliki kandungan yang meningkatkan kesehatan untuk tubuh.

Fenomena yang sering terjadi adalah ketika mengonsumsi makanan lebih mementingkan untuk dapat menghilangkan rasa lapar tanpa melihat dampak yang berpengaruh pada kesehatan. Bahkan juga tidak peduli pada fungsi pangan maupun itu primer, sekunder, dan tersier. Hal ini sering terjadi contohnya, mie goreng/kuah yang sering dikombinasikan pada saat makan dengan nasi, sementara keduanya terdapat kandungan yang sama – sama memiliki karbohidrat. Jikalau dikonsumsi dalam porsi banyak dapat menimbulkan efek kesehatan dimanah, karbohidrat yang diubah menjadi glukosa yang berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes, bahkan penyakit jantung.

Ada satu ayat yang sangat terinspirasi yaitu di dalam Al Quran Surat Al-A’raf Ayat 31. Artinya ; “ Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

Dengan ayat diatas menimbulkan sebuah paradigma berpikir bahwa Dr. Hasbullah mengatakan kalau semisalnya disebut makanan dan minuman yang adil. Apakah ada makanan dan minuman yang tidak adil.? Sebelum sampai kesana kita menjelaskan pengertian adil terlebih dahulu. Kata adil secara deskriptif banyak sekali tetapi, kita bisa menarik suatu kesimpulan. Bahwa adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, atau melakukan sesuatu berdasarkan pada ukurannya, sesuai dengan porsinya, bahkan tidak lebih dan kurang. Sehingga dapat kita sebutkan bahwa makan yang adil adalah makan yang harus sesuai porsi, tidak lebih dan kurang. Bagi mana dengan makanan yang tidak adil tentunya, dapat kita bergeser antar titik keseimbangan apakah ke kiri atau ke kanan (lebih atau kurang) maka, posisi itu kita berada dalam posisi makanan yang tidak adil. Kenapa, jikalau kita kurang makan berarti terjadinya kekurangan gizi. Begitu juga sebaliknya kelebihan makan menimbulkan kelebihan gizi.

Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan umat manusia salah satunya mengenai makanan. Makanan yang halal dan baik diatur secara jelas oleh Allah SWT, salah satunya melalui firman-Nya dalam surah Al Baqarah ayat 186. Allah SWT berfirman Artinya: “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.”

Persoalan makan yang menurut prof gufran menyebutkan sebagai hasrat yang paling purba dari sepanjang sejarah kehidupan manusia. Dilihat dari Pendekatan antropolinguistik dengan menggunakan metode Intertekstual yang dapat menemukan satu simpul bahwa puasa itu soal makan dan itu adalah hasil paling purba dari sepanjang sejarah kehidupan manusia ini kedudukan makanan sangat penting bagi keberlangsungan manusia. Bahkan ditegaskan melalui pidato oleh presiden pertama Ir. Soekarno pada tahun 1952 di bogor statementnya bahwa pangan adalah hidup dan matinya sebuah bangsa. Bahkan pangan ini jadikan sebagai hak bagi manusia ini bisa kita temukan di teks Declaration of Human atau pendahuluan dari UU tentang pangan republik Indonesia.
Dr. Hasbullah mangatakan pada saat berakhir kultumnya bahwa muda – mudahan kita bisa makan dan minum yang lebih adil sehingga kita bisa tergolong orang – orang yang disukai oleh Allah SWT.
Hnd/red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *