Tragedi Longsor IMIP 8: Doa Tak Pernah Padam untuk Muhammad Akbar dan Rekan-Rekannya

Berita Informasi1188 Dilihat

Bahodopi, Morowali – Langit mendung dan tanah yang masih lembap menyimpan jejak tragedi yang belum lama terjadi. Pada 22 Maret 2025, longsor hebat melanda area kerja di kawasan Industri IMIP 8, menelan tiga pekerja dalam sekejap: Demianus, Irfan Tandi Tasik, dan Muhammad Akbar.

Hingga berita ini diturunkan, dua korban telah ditemukan dan dimakamkan dengan layak. Namun satu nama masih menjadi harap dalam doa: Muhammad Akbar, operator alat berat yang dikenal sederhana dan bertanggung jawab, belum ditemukan.

Aditya Setiawan, salah satu karyawan dan penulis kisah ini, menuangkan rasa duka mendalam melalui sebuah tulisan pribadi yang menyentuh. Ia mengaku tidak mengenal para korban secara pribadi, namun rasa kemanusiaan membuatnya terpanggil untuk bersuara.

“Saya menulis ini bukan karena saya lebih tahu, tapi karena saya merasa kehilangan. Akbar bukan hanya nama di daftar pencarian, dia adalah simbol pengorbanan dan tanggung jawab,” tulis Aditya.

Pascatragedi, upaya pencarian dilakukan secara masif. Tim SAR gabungan, TNI-Polri, pihak perusahaan, serta relawan turun tangan. Ekskavator yang dikendarai Akbar berhasil diangkat, namun jasadnya belum ditemukan. Setiap hari pencarian dilakukan, setiap malam keluarga menanti dalam linangan air mata.

Tepat satu bulan setelah kejadian, pada 23 April 2025, dilangsungkan prosesi tabur bunga di lokasi ditemukannya alat berat milik Akbar. Meski tubuhnya belum ditemukan, momen itu menjadi bentuk simbolis pengikhlasan dan penghormatan terakhir.

“Tabur bunga ini bukan sekadar ritual. Ini bukti bahwa Akbar tidak dilupakan. Ia hidup dalam doa dan kenangan banyak orang,” ungkap salah satu peserta prosesi.

Aditya, yang tidak hadir secara langsung dalam upacara tersebut, menyampaikan empati dari kejauhan.

“Semoga Tuhan menyentuh bumi sekali lagi, dan membawa Akbar pulang. Jika ia telah berpulang, semoga surga menjadi tempat peristirahatannya.”

Di akhir tulisannya, Aditya juga menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah terlibat dalam proses pencarian dan dukungan moral, termasuk konten kreator dan media yang tak henti menyuarakan tragedi ini.

Meskipun secara teknis pencarian telah dihentikan, harapan dan doa masyarakat belum padam. Cinta kepada Akbar masih mengalir—melintasi waktu, menyatu dalam tanah Bahodopi yang kini menjadi saksi bisu perjuangan hidup dan kehilangan.

“Kami menunggumu, Akbar. Dalam doa. Dalam harap. Dalam cinta yang tak akan lekang oleh waktu.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *