Hardiknas di Tengah Krisis Moral: Kecurangan UTBK dan Bencana Pengasuhan di Era Ambisi Instan

Berita Informasi148 Dilihat

JAKARTA, jendelamalut.com – Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum reflektif untuk meninjau ulang arah dan martabat pendidikan bangsa. Namun, peringatan Hardiknas 2025 justru diwarnai ironi: kecurangan masif dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) kembali mencoreng semangat kejujuran di dunia pendidikan.

Meskipun pelaksanaan UTBK kini didukung oleh teknologi pengawasan canggih—seperti biometrik, pelacakan lokasi, dan sistem pengacak soal—praktik curang masih saja terjadi. Ironisnya, banyak kecurangan tersebut bukan hasil kelicikan siswa, melainkan akibat keterlibatan orang tua yang diam-diam memfasilitasi kecurangan.

“Budaya parenting kita hari ini adalah bencana,” tegas Devie Rahmawati, Associate Professor Program Vokasi UI. Mengutip peneliti Kay Hymowitz dari Institute for Family Studies, ia menyebut bahwa obsesi orang tua terhadap hasil akademik—ranking, gelar, hingga kelulusan PTN—telah menggeser nilai pendidikan sejati: karakter dan kejujuran.

Studi dari University of Southern Queensland (2023) menunjukkan bahwa gaya pengasuhan permisif yang terlalu fokus pada pencapaian dapat menumbuhkan kecemasan, manipulasi, bahkan penurunan standar etika di kalangan remaja. “Anak-anak diajarkan untuk menang, bukan untuk benar. Mereka dibentuk menjadi cerdas, bukan jujur,” tambah Devie, penulis buku Communication Technology and Society.

Kondisi ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Studi Pew Research Center (2024) menunjukkan bahwa 77% orang tua di Amerika Serikat mengakui mereka membesarkan anak-anak dengan nilai-nilai yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Ambisi dan pencitraan mulai menggantikan nilai kerja keras, kejujuran, dan hormat.

Makalah Dishonesty: From Parents to Children (2019) bahkan menegaskan bahwa anak-anak belajar berbohong bukan dari media sosial, melainkan dari rumah. “Ketika orang tua membayar joki UTBK atau memaki guru di depan anak, maka yang diwariskan adalah nilai-nilai keliru sejak dini,” terang Devie.

Ia juga menyoroti fenomena outsourcing parenting, merujuk pada riset Outsourcing Parenthood? dari Wisconsin School of Business, yang menyebutkan bahwa banyak orang tua hari ini menyerahkan tanggung jawab pengasuhan kepada teknologi, guru les, atau konsultan pendidikan.

Namun, di tengah krisis ini, masih ada harapan. SMA Kemala Taruna Bhayangkara, misalnya, menerapkan pendekatan berbeda. “Kami tidak hanya menilai akademik, tetapi juga komitmen keluarga terhadap pendidikan karakter,” ujar Prof. Dedi Prasetyo, Guru Besar UNISULA sekaligus Ketua Yayasan Kemala Taruna Bhayangkara.

Dalam proses seleksi, sekolah ini melakukan wawancara keluarga sebagai bagian penting dalam menilai kesiapan orang tua menjadi mitra sekolah. “Kami ingin tahu nilai apa yang tumbuh di rumah, bukan hanya nilai rapor anak,” tegas Dedi, yang juga menjabat sebagai Irwasum Polri.

Pendekatan ini sejalan dengan riset Edutopia (2023) dan Ramagya School (2024), yang menunjukkan bahwa keterlibatan aktif orang tua dalam proses pendidikan berdampak positif terhadap keadilan sosial, empati lintas budaya, dan keberhasilan akademik jangka panjang.

“Sekolah bukan tempat penitipan anak. Pendidikan tidak bisa satu arah,” tambah Dedi. “Karakter tidak lahir dari try out, tetapi dari teladan sehari-hari.”

Momentum Hardiknas kali ini seharusnya menjadi panggilan sadar bagi semua pihak. “Pendidikan sejati tidak tumbuh dari skor ujian, tetapi dari diskusi di meja makan, pelukan yang memberi rasa aman, dan keberanian mengakui bahwa gagal itu manusiawi, curang itu tidak,” tutup Dedi. Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *