PP Himmah Apresiasi Kapolri: Penangguhan Penahanan Mahasiswi Pembuat Meme Tunjukkan Kepemimpinan Humanis dan Berani

Berita Informasi151 Dilihat

Jakarta, 13 Mei 2025, jendelamalut.com – Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP Himmah) memberikan apresiasi kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo atas kebijakan penangguhan penahanan terhadap mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB) berinisial SSS. Mahasiswi tersebut sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus meme Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Ketua Umum PP Himmah, Abdul Razak Nasution, menilai langkah Kapolri tersebut sebagai bentuk kepemimpinan yang bijaksana, empatik, dan berlandaskan kemanusiaan.

“Apresiasi setinggi-tingginya kami sampaikan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo atas keputusan yang sangat berempati dan bijak dalam menangani kasus ini,” ujar Razak, Selasa (13/5/2025).

Menurut Razak, penangguhan penahanan tersebut mencerminkan keberanian moral dalam pengambilan keputusan yang mempertimbangkan permohonan resmi keluarga dan jaminan dari Ketua Komisi III DPR RI. Ia menilai keputusan tersebut bukan sekadar prosedural, tetapi menunjukkan keberpihakan terhadap nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

“Ini bukan semata-mata soal hukum, tapi juga soal keberanian untuk menunjukkan wajah negara yang manusiawi. Kapolri telah membuktikan bahwa penegakan hukum bisa dijalankan tanpa mengabaikan dimensi sosial dan psikologis pelaku, khususnya generasi muda,” jelasnya.

Razak menegaskan, langkah ini bukan berarti mengabaikan proses hukum. Justru, kata dia, ini merupakan implementasi dari keadilan restoratif yang semakin relevan dalam dinamika hukum saat ini.

“Kita harus mengedepankan pendekatan edukatif dan pembinaan, terutama bagi generasi muda yang mungkin belum memahami sepenuhnya dampak hukum dari aktivitas digital mereka,” tegas Razak.

Ia pun menyatakan bahwa keputusan ini dapat menjadi preseden penting dalam praktik penegakan hukum di masa depan. Hukum, menurutnya, tidak selalu harus dipandang sebagai hitam dan putih, melainkan juga harus mempertimbangkan konteks sosial dan masa depan individu yang terlibat.

“Ini adalah langkah tepat, berani, dan mencerminkan kualitas kepemimpinan Polri hari ini yang lebih humanis dan progresif,” tutup Razak. Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *