Wakil Wali Kota Ternate Buka Diskusi “Ternate Berbicara” Bahas Festival Kora-Kora 2025: Antara Pemerataan Lokasi dan Peran Masyarakat dalam Pariwisata Berkelanjutan

Berita Informasi457 Dilihat

Ternate, 30 Mei 2025, jendelamalut.com — Wakil Wali Kota Ternate, Nasri Abubakar, secara resmi membuka kegiatan “Ternate Berbicara” yang berlangsung di Café Rotom, kawasan bersejarah Benteng Oranje, Kota Ternate, pada Jumat, 30 Mei 2025. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Duta Kreator Indonesia bersama Generasi Digital Indonesia (GRADASI) Maluku Utara serta Srikandi Pemuda Pancasila Maluku Utara, dengan dukungan penuh dari Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI).

Mengangkat topik sentral “Festival Kora-Kora 2025: Keadilan dan Pemerataan Lokasi Event Tahunan di Kota Ternate, Pesta Rakyat atau Pemerintah?”, diskusi ini menghadirkan beragam pemangku kepentingan untuk membedah isu strategis seputar pemerataan pelaksanaan Festival Kora-Kora, sebuah perhelatan budaya tahunan yang telah menjadi ikon pariwisata di Ternate.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Nasri Abubakar menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat dalam memastikan bahwa kegiatan pariwisata seperti Festival Kora-Kora tidak hanya berorientasi pada seremonial, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. “Pemerataan lokasi festival merupakan bentuk keadilan sosial yang harus diupayakan bersama. Kami tidak ingin festival ini hanya terpusat di titik tertentu, sementara masyarakat di kecamatan lain merasa terabaikan,” ujarnya.

Diskusi ini turut membahas sub-topik penting mengenai Pengelolaan Pariwisata Berbasis Masyarakat Secara Terpadu dan Berkelanjutan. Dalam sesi panel, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Dr. Muslim Gani, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa keberlanjutan dalam pengelolaan budaya dan pariwisata tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan aktif warga lokal sebagai pelaku utama. “Kita ingin masyarakat menjadi subjek, bukan hanya objek dalam pembangunan pariwisata. Perlu ada pelatihan, pendampingan, dan pemberdayaan yang terencana,” jelasnya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Ternate, Rustam Pandjab Mahli, S.Pd., menekankan bahwa aspek keadilan geografis dan inklusi sosial dalam penentuan lokasi festival menjadi perhatian serius pemerintah. “Kita akan dorong agar tahun 2025 pelaksanaan Festival Kora-Kora bisa menyentuh wilayah-wilayah yang selama ini belum terjangkau, agar dampaknya bisa lebih merata,” katanya.

Sementara itu, National Project Leader Literasi Digital Kominfo RI–KFI, Thamrin Ali Ibrahim, yang juga hadir sebagai narasumber, mengingatkan pentingnya literasi digital dalam mendukung promosi dan partisipasi masyarakat dalam event budaya. “Anak-anak muda bisa memainkan peran besar melalui media sosial dan konten digital untuk mengangkat potensi lokal. Ini adalah kekuatan baru yang harus kita manfaatkan,” ungkap Thamrin.

Diskusi “Ternate Berbicara” ini tidak hanya menjadi ruang dialog terbuka antar pemangku kepentingan, tetapi juga menjadi tonggak awal bagi pembentukan sinergi yang lebih kuat dalam membangun pariwisata berbasis masyarakat, adil secara wilayah, dan berkelanjutan secara konsep. Para peserta yang hadir, termasuk kalangan pemuda, pelaku UMKM, pegiat budaya, hingga akademisi, menyambut antusias wacana pemerataan lokasi Festival Kora-Kora sebagai bentuk nyata dari demokratisasi kebudayaan di Kota Ternate.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi dialog interaktif yang membuka ruang tanya jawab antara peserta dan narasumber, memperkaya perspektif dan memperkuat komitmen bersama untuk menjadikan Festival Kora-Kora 2025 sebagai milik bersama, bukan semata agenda pemerintah.

(Red/Ryo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *