Kapolri Terima Anugerah Adat ‘Ingatan Budi’ dari LAM Riau: Simbol Penghormatan dan Amanah Moral di Bumi Melayu

Berita Informasi2166 Dilihat

PEKANBARU – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menerima Anugerah Adat Ingatan Budi dari Lembaga Adat Melayu Riau (LAM Riau) dalam sebuah prosesi adat yang khidmat di Balai Adat LAM Riau, Jalan Diponegoro, Pekanbaru, Sabtu (12/7/2025).

Penganugerahan ini menjadi bentuk penghormatan tertinggi dari masyarakat adat Melayu atas kontribusi Kapolri dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan nilai-nilai kemanusiaan di tanah air, khususnya di Provinsi Riau.

Dalam prosesi penuh makna tersebut, Kapolri dikenakan tanjak sebagai simbol kehormatan, selempang yang melambangkan keagungan dan perlindungan, keris sebagai representasi kekuatan, serta kalung pingat sebagai pengikat persaudaraan.

Puncak acara ditandai dengan ritual tepuk tepung tawar—percikan air dan dedaunan yang melambangkan doa keselamatan, keberkahan, dan kebijaksanaan.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, menyampaikan bahwa anugerah ini adalah penghargaan atas nilai-nilai moral, integritas, dan kontribusi nyata Kapolri terhadap masyarakat dan bangsa.

“Ingatan budi bukan sekadar memori, melainkan kesadaran moral yang menumbuhkan empati, penghargaan, dan perilaku terpuji. Ini adalah inti peradaban Melayu yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan,” ujar Datuk Taufik.

Menurutnya, Kapolri telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menangani berbagai tantangan, termasuk penanganan kebakaran hutan dan lahan, pendekatan hukum yang humanis, serta pelaksanaan kebijakan yang presisi oleh jajaran Polda Riau.

Datuk Taufik juga memberikan apresiasi khusus kepada Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan yang dianggap berhasil menerjemahkan arahan Kapolri secara konkret di lapangan.

“Kapolda Riau hadir sebagai pemimpin yang tegas namun penuh empati, menjadi wajah Polri yang bersahabat dan solutif di tengah masyarakat Melayu,” katanya.

Dalam sambutannya, Kapolri Jenderal Sigit menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas anugerah tersebut. Ia memaknainya sebagai amanah moral untuk terus menempatkan nilai-nilai luhur dalam setiap pengabdian.

“Anugerah ini adalah pengingat bahwa pengabdian harus berpijak pada budi pekerti. Dari situlah lahir pengaruh kebaikan yang akan dikenang dan dirasakan masyarakat,” ucap Kapolri.

Jenderal Sigit juga menyoroti pentingnya peran budaya sebagai jangkar moral bangsa di tengah tantangan global seperti konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga disrupsi teknologi.

“Nilai budaya Melayu menjadi arah moral bangsa. Saya berharap LAM Riau terus menjadi benteng penjaga toleransi, kerukunan, dan gotong royong,” ujarnya.

Ia juga menyerukan pentingnya sinergi antara seluruh elemen bangsa dalam menjaga persatuan demi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

“Dalam keberagaman, kita satu tujuan: hidup rukun dan membangun masa depan yang lebih baik. Persatuan adalah kekuatan utama kita,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Riau Abdul Wahid menyampaikan apresiasi atas penganugerahan tersebut dan menegaskan bahwa sinergi antara adat dan negara adalah fondasi penting dalam menjaga harmoni dan ketertiban.

“Penghormatan ini mencerminkan bahwa adat dan negara bisa berjalan seiring dalam menjaga kehormatan dan kedamaian di bumi Melayu,” tutur Gubernur Wahid.

Acara ditutup dengan pembacaan pantun adat oleh Kapolri yang menggambarkan rasa terima kasih dan kedekatan batinnya dengan masyarakat Riau.

“Riau akan jadi ingatan. Takkan lapuk ditelan masa,” ucapnya, disambut tepuk tangan para hadirin.

Turut hadir dalam prosesi tersebut sejumlah tokoh penting, seperti Forkopimda Riau, Ketua Umum Bhayangkari, pejabat utama Mabes Polri, dan jajaran Polda Riau.


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *