957 Warga Mengungsi Akibat Erupsi Gunung Semeru, Lumajang Tetapkan Status Tanggap Darurat

Berita36 Dilihat

Erupsi Gunung Semeru pada Rabu, 19 November 2025, memicu peningkatan aktivitas vulkanik secara signifikan yang berujung pada pengungsian hampir seribu warga. Peristiwa ini terjadi pada sore hingga malam hari, dengan awan panas guguran yang berdampak langsung terhadap permukiman warga di beberapa desa di Kabupaten Lumajang.

Badan Geologi menaikkan status Gunung Semeru dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada pukul 16.00 WIB berdasarkan analisis aktivitas vulkanik. Hanya dalam satu jam, status kembali dinaikkan ke Level IV (Awas) akibat intensitas erupsi dan potensi bahaya yang meningkat. Pada level tertinggi ini, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 20 kilometer di sepanjang sektor tenggara Besuk Kobokan, jalur utama aliran awan panas.

Dampak langsung dari erupsi mendorong 957 warga untuk mengungsi ke berbagai titik aman. Titik pengungsian mencakup SD 04 Supiturang (±100 orang), Masjid Ar-Rahmah (±500 orang), SD Sumberurip 02 (±200 orang), Balai Desa Oro-oro Ombo, rumah Kepala Desa Sumbermujur (±55 orang), serta Kantor Kecamatan Candipuro (±101 orang). Sejumlah pengungsi tambahan menempati Balai Desa Penanggal, khususnya warga Dusun Gunung Sawur. Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama BPBD terus melakukan verifikasi dan pemutakhiran data pengungsi.

Sebagai respons awal, Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, mulai 19 hingga 26 November 2025. Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menginstruksikan aktivasi pos komando guna memperkuat koordinasi antarinstansi, menjamin kelancaran evakuasi, serta memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan relawan, aparat desa, dan unsur keamanan untuk menjaga keamanan wilayah dan mengatur mobilisasi warga secara tertib.

Prioritas pemerintah dalam masa tanggap darurat meliputi: perlindungan keselamatan warga di zona rawan, pemenuhan kebutuhan logistik pengungsi, pengawasan ketat aktivitas vulkanik, serta penyampaian informasi resmi secara berkala. Dengan langkah respons cepat dan koordinasi terpadu, upaya mitigasi diharapkan dapat menekan risiko lanjutan dan menjaga stabilitas kondisi masyarakat di sekitar Gunung Semeru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *