Ketika sebuah foto gajah terjebak dalam banjir bandang di Sumatra muncul ke permukaan, banyak orang terdiam. Tapi tidak dengan Farwiza Farhan, Direktur Yayasan HAkA (Hutan Alam dan Lingkungan Aceh). Ia tidak hanya kaget—ia marah besar. Dan bukan marah sembarangan. Marah karena, menurutnya, foto itu bukan sekadar potret bencana. Itu potret kegagalan kita sebagai manusia.
Dalam program Ngobrol Seru by IDN Times yang tayang Senin (1/12/2025), Farwiza menusuk langsung ke jantung persoalan: “Kalau sampai gajah—salah satu makhluk paling besar dan paling kuat di bumi—ikut menjadi korban, apa kabar kita sebagai manusia yang mengaku khalifah? Di mana letak tanggung jawab kita menjaga lingkungan?”
Ini bukan sekadar kritik. Ini tamparan keras.
Dan dari sinilah percakapan dimulai—tentang kemarahan, prioritas kemanusiaan, hingga kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah.
Tragedi Banjir Bandang: Saat Alam Berbicara Lewat Cara Paling Menyakitkan
Banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat bukan sekadar bencana alam. Ini adalah bencana yang menggerus rumah, merenggut nyawa, dan meninggalkan trauma panjang. Foto gajah yang hanyut itu hanyalah salah satu wajah dari duka yang lebih besar.
Bagi Farwiza, foto itu memukul tepat di titik yang selama ini ia perjuangkan—konservasi alam, lingkungan sehat, dan perlindungan satwa.
“Foto itu bikin saya marah. Karena kalau sampai gajah yang biasanya bisa menjaga dirinya sendiri pun jadi korban, berarti ada sesuatu yang benar-benar salah dari cara kita mengelola lingkungan,” ujarnya.
Ketika Emosi Harus Tersingkir: Prioritas pada Evakuasi dan Logistik
Namun, di tengah semua kemarahan itu, Farwiza mengaku harus menahan diri. Mengapa? Karena saat bencana sedang terjadi, ada hal yang jauh lebih mendesak daripada meluapkan amarah.
Ia mengingat kembali momen ketika foto-foto banjir bandang masuk ke layar ponselnya. Rasa sedih dan kesal memang menguasai, tetapi ia segera sadar: sekarang bukan waktunya.
“Sebenarnya saya sangat marah melihat foto itu. Tapi di tengah kekalutan untuk melakukan rescue, evakuasi, dan mengirimkan logistik, kemarahan itu harus ditunda dulu. Ada prioritas yang lebih tinggi,” tegasnya.
Farwiza tahu persis betapa rumitnya situasi di lapangan. Saat bencana sebesar ini terjadi, segala tenaga—baik dari relawan, pemerintah daerah, hingga masyarakat—dibutuhkan untuk satu hal: menyelamatkan nyawa.
Tidak ada ruang untuk ego. Tidak ada ruang untuk memperdebatkan kesalahan masa lalu. Fokus saat ini adalah:
- memastikan akses ke daerah terisolir,
- mempercepat evakuasi,
- mengirimkan logistik ke titik-titik yang belum terjangkau,
- dan mendata korban yang hilang maupun selamat.
Emosi harus menyingkir sementara waktu. Tapi itu bukan berarti kritik harus hilang. Justru setelah masa krisis berlalu, kritik itulah yang akan menentukan langkah kita berikutnya.
Sorotan ke Pemerintah Pusat: Ketika Kebijakan Turut Disorot
Di bagian ini, percakapan mulai bergeser dari bencana ke kebijakan. Dan Farwiza tidak menahan kata-katanya.
Ia menyoroti respon pemerintah pusat, khususnya Presiden Prabowo Subianto, yang baru turun melihat lokasi terdampak pada hari ketujuh setelah bencana terjadi. Menurutnya, kehadiran pemimpin negara seharusnya tak hanya simbolis, tapi juga harus disertai evaluasi dan koreksi kebijakan.
Dan di sinilah kritik paling keras disampaikan.
Farwiza menilai kebijakan pemerintah yang mengecilkan anggaran di berbagai sektor vital sangat berpengaruh terhadap respons bencana. Ia menuding fokus pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat alokasi anggaran ke sektor seperti BMKG dan BNPB melemah.
Kata-katanya tegas dan menusuk:
“Keputusan Bapak mengecilkan budget di semua lini penopang kehidupan pemerintah dan memfokuskan semuanya di MBG punya dampak sangat besar. Demi makan siang gratis, kami jadi membayar dengan harta, dengan nyawa, dengan apa yang kami punya.”
Ia menyebutkan beberapa hal yang, menurutnya, seharusnya tak boleh disentuh pemotongan anggaran:
- BMKG, yang bertugas memberikan peringatan dini
- BNPB, lembaga yang menjadi garda terdepan penanganan bencana
- Sektor vital lain yang menopang keselamatan publik
“Bagaimana BMKG tidak punya cukup budget? Bagaimana BNPB tidak punya cukup budget? Bagaimana ini semua bisa dibiarkan?” tegasnya.
Farwiza juga mengkritik narasi pemerintah yang mengatakan bahwa keadaan sudah “terkontrol” dan “stabil”. Menurutnya, itu jauh dari kenyataan di lapangan.
Kebutuhan Mendesak: Status Bencana Nasional dan Dua Langkah Penting
Melihat betapa besarnya dampak banjir bandang ini, Farwiza menegaskan bahwa pemerintah perlu segera menetapkan status bencana nasional untuk Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Menurutnya, skala kerusakan, jumlah warga terdampak, dan data korban yang belum lengkap sudah lebih dari cukup untuk menetapkan status tersebut.
Ia menyebut ada dua langkah yang tidak bisa ditunda:
1. Pemerintah Harus Segera Menggelar Rapat Koordinasi Menyeluruh
Tujuan rapat ini adalah:
- memetakan wilayah terisolir,
- mengidentifikasi daerah yang belum menerima bantuan,
- menilai kebutuhan logistik dan medis,
- serta mengatur distribusi bantuan yang lebih efektif.
Bagi Farwiza, informasi seperti ini vital. Bukan hanya bagi pemerintah, tapi juga bagi masyarakat dan relawan.
2. Pemerintah Harus Mengumumkan Update Setiap Enam Jam
Ini adalah poin yang sangat ditekankan oleh Farwiza. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui perkembangan terkini.
“Kita perlu tahu apa yang terjadi. Kita perlu tahu apa yang sudah dilakukan. Kita perlu tahu bagian mana yang masih perlu kita cover,” ujarnya.
Transparansi seperti ini akan:
- mengurangi kebingungan publik,
- meningkatkan kepercayaan masyarakat,
- dan membuat distribusi bantuan lebih tepat sasaran.
Saat Keselamatan Warga Dipertanyakan: Aceh Tengah Bukan Prioritas?
Salah satu hal yang membuat Farwiza semakin gelisah adalah ketika pemerintah menyebut bahwa wilayah Aceh Tengah bukan prioritas penanganan.
Pernyataan itu, menurutnya, menimbulkan pertanyaan besar:
“Apakah keselamatan warga di daerah tersebut turut dikesampingkan?”
Misalnya:
- Apakah daerah itu dianggap tidak terlalu parah padahal faktanya mungkin berbeda?
- Apakah akses informasi ke wilayah itu tidak lengkap?
- Atau ada faktor lain yang membuat wilayah itu tidak masuk prioritas?
Bagi Farwiza, satu nyawa pun tidak boleh dianggap tidak penting. Semua wilayah terdampak harus mendapat perhatian yang sama.
Kemarahan yang Tertahan: Saat Foto Gajah Jadi Simbol Kegagalan Kita
Mari kembali ke awal cerita—foto gajah korban banjir bandang.
Mengapa ini begitu memukul Farwiza?
Karena bagi seorang aktivis lingkungan, gajah bukan sekadar satwa. Ia simbol keseimbangan ekosistem.
Ketika hewan sebesar itu tidak bisa menyelamatkan diri, itu tanda bahwa lingkungan sedang berteriak keras. Ada sesuatu yang rusak.
“Sebenarnya ada banyak hal yang membuat saya marah soal banjir ini. Fakta bahwa gajah pun bisa ikut menjadi korban menunjukkan betapa kita gagal menjaga lingkungan,” kata Farwiza.
Dan bagi banyak orang yang mencintai alam, kata-kata itu sangat menusuk.
Pengelolaan Lingkungan: Kegagalan yang Tidak Bisa Lagi Disangkal
Di bagian ini, tanpa mengubah fakta, nada bicara Farwiza mengajak kita merenung. Ia menegaskan bahwa bencana seperti ini bukan hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi. Ada faktor lain yang berperan:
- pengelolaan lingkungan yang buruk,
- kerusakan hutan,
- perubahan fungsi lahan,
- dan lemahnya pengawasan.
Namun ia tidak menguraikan detail teknisnya—karena memang bukan itu pokok pembicaraannya. Ia hanya ingin publik tahu: bencana sebesar ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang selama ini diabaikan.
Akhir Kata: Ketika Alam Mengingatkan, Apakah Kita Mau Mendengar?
Kemarahan Farwiza bukan kemarahan kosong. Ia berbicara bukan untuk menambah drama, melainkan untuk mengingatkan kita bahwa bencana ini adalah alarm keras.
Alarm bahwa:
- tata kelola lingkungan kita bermasalah,
- anggaran bencana tidak boleh dipotong,
- transparansi informasi itu wajib,
- dan keselamatan warga tidak boleh menjadi prioritas nomor sekian.
Gajah yang hanyut itu mungkin tidak bersuara. Tapi ia membawa pesan besar.
Dan melalui suaranya, Farwiza mengajak kita untuk berhenti sejenak—merenung, lalu bergerak. Karena kalau tidak, mungkin suatu hari nanti kita harus melihat foto-foto yang lebih menyakitkan lagi.






